Kutitipkan salamku untukmu. Aku hanya seorang lelaki penjual jamu. Sudah lama kita tak bertemu. Tahu-tahu orang tuamu sudah punya calon menantu. Sebagai seorang lelaki sejati aku menerima keputusanmu. Meskipun hatiku rasanya seperti ditusuk-tusuk dengan paku. Saat itu engkau berjalan memakai gaun berwarna biru. Gaun itu adalah hadiah ulang tahunmu dariku. Meskipun warnanya semakin layu. Namun cintaku tak pernah bertemu.
Kuterima takdirku sebagai lelaki penjual jamu. Mungkin orang tuamu lebih memilih dia seorang pengusaha tebu. Tapi percayalah dia tak punya cinta seperti aku. Mengapa engkau memilih keputusan orang tuamu. Padahal aku sudah lama menunggu. Jika memang ini jalan yang terbaik bagimu. Lebih baik aku pergi meninggalkanmu. Tapi rasanya berat berpisah denganmu.
Sepertinya engkau masih cinta kepadaku. Namun engkau takut dengan orang tuamu. Ternyata kisah Siti Nurbaya di zaman sekarang masih berlaku. Meskipun begitu aku tetap menyerah untuk mendapatkan dirimu. Karena kedua orang tuamu lebih memilih laki-laki yang lebih mapan tidak seperti aku.
Dunia seakan tidak adil jika hukum ini berlaku. Mengapa lelaki seganteng aku tidak laku-laku. Maklum saja aku hanya seorang penjual jamu. Tapi aku tetap yakin suatu saat kau akan menjadi milikku. Namun jika tidak aku akan mencari yang lebih baik daripada kamu.


Comments
Post a Comment