RETORIKA CINTA

 


Dunia tanpa cinta bagaikan air tanpa udara. Air adalah makna dari sebuah ketenangan batin yang akan terus mengalir tanpa batas. Sedangkan udara adalah makna dari kebebasan. Retorika dalam percintaan sama halnya dengan memakan buah anggur tanpa harus mengelupas kulitnya. Seringkali kita berpikir cinta itu terbungkus oleh rasa sakit yang bisa menghantui perasaan seseorang yang kita cintai. Namun, percayalah cinta tak akan menyakiti siapapun selagi kita lebih dewasa dalam menyikapinya.

Jangan pernah berbicara tentang cinta jika anda belum pernah merasakan jatuh cinta. Sedikit diriku menantang arus dari gejolak pembahasan tentang cinta. Jujur saja, dari dulu sampai sekarang diriku belum pernah merasakan apa itu jatuh cinta. Aku adalah manusia yang tercipta dengan karakter pendiam. Berdekatan dengan seorang wanita saja aku takut, apalagi sampai menembak atau bahkan mungkin merayunya.

Dalam perjalanan kehidupan, cinta selalu menemani dimanapun kita berada. Pernahkah anda melihat seorang wanita yang anda kagumi?. Lantas, reaksi apa yang anda lakukan ketika melihat wanita yang anda kagumi?. Jika anda benar-benar cinta kepadanya, maka dengan mental yang kuat anda akan mendekatinya. Namun, beda dengan diriku. Jika aku melihat wanita yang aku kagumi, maka aku akan berdiam diri. Aku hanya bisa melihat dirinya dari kejauhan. Memandang wajahnya yang indah diriku sudah berbahagia. Tak muluk-muluk pingin mendekati atau merayunya. Diriku ibarat sebuah bunga yang layu di tepi jalan. Aku hanya bisa merasakan namun tidak bisa mengungkapkan. Diriku seakan layu dan tak berdaya. Hingga pada akhirnya ada seorang sahabat yang ternyata mencintai wanita yang selama ini aku kagumi. Namun, dengan mudahnya aku melepaskan dirinya walaupun sesal di dalam dada.

Cinta memang penuh dengan teka-teki. Hari ini engkau suka, lain hari engkau akan berubah prasangka. Bagaikan air dan udara yang menyatu menentukan arah kemana mereka akan berlabuh. Air dan udara merasa bingung karena tidak menemukan jalan untuk berlabuh, hingga pada akhirnya mereka mati tertelan zaman yang sudah berkabut. 

Comments