Lelah hati bercampur dengan emosi. Keegoisan yang membuat dirimu tak percaya diri. Seolah hilang dan tak pernah kembali. Tak ada alasan mengapa dirimu pergi. Tak sepihak tak sekata bercampur dengan duri. Rumput ilalang menari-nari di bawah cahaya mentari. Aku terlena melihatmu mendekam di ruang sepi. Masih adakah cinta yang terpatri. Hingga ujung waktu kan berhenti.
Riang
nestapa kutuliskan sebuah lagu ironi. Bersama sekumpulan burung merpati. Di
bawah rimbunnya pohon jati. Terbayang wajahmu terpancar cahaya pelangi. Aku
hanya bisa menutup mata dan berharap dirimu kembali. Hingga tengah malam yang
sunyi. Aku tak melihat dirimu kapan akan kembali. Tetes air mata membasahi
pipi. Aku mencoba untuk menenangkan diri.
Kemanakah
kau jinak-jinak merpati. Ijinkan aku mencintaimu seperti yang dulu lagi. Apakah
aku tak pantas untuk mencintai dan dicintai. Hingga engkau pergi dan tak pernah
kembali. Andaikan aku bisa melihatmu kembali. Kan kubawakan cahaya bumi dan
matahari. Demi cintaku yang tulus sepenuh hati. Aku rela mati demi kebahagiaan
sang putri.


Comments
Post a Comment