Seharusnya
kau datang malam ini. Aku sudah bersiap diri memakai baju paling rapi dan
beraroma wangi. Mengapa kau khianati. Mengapa kau tak selalu mengerti. Mengapa
selalu aku yang salah selama ini. Hatiku hancur bagaikan disayat pisau belati.
Rasanya sungguh sakit saat kau khianati.
Gundah
gulana di malam yang sepi. Aku seorang diri menunggu bidadari. Waktu berjalan
tiada henti.Hembusan nafas panjang ditemani secangkir kopi. Aku galau setengah
mati. Bagaikan ayam bakar yang dimasak lalu dibuang dan tak ada yang peduli.
Apakah aku lebih baik mati. Namun aku takut untuk memulai. Aku bingung harus
bagaimana lagi.
Kau
memang wanita pengkhianat yang paling keji. Wajahmu cantik tapi hatimu hitam
seperti bokong panci. Lebih baik aku ungkapkan keluh kesah ku disini. Aku
berdiri membawa pisau belati. Kucabik-cabik dirimu sampai mati. Lalu aku bakar
dengan api. Dagingmu terasa menggoda sampai ke lubuk hati. Kunikmati malam ini
dengan ayam bakar pak Jayadi.
Urusan
cinta tak akan berakhir jika keegoisan masih terbayang di dalam lubuk sanubari.
Biarkan cinta ini pergi ke laut Sulawesi. Aku tak butuh cinta lagi. Yang aku
butuhkan hanyalah secangkir kopi.


Comments
Post a Comment