Rasanya menjadi ayah untuk pertama kali

 


Gue pikir menjadi ayah itu mudah, ternyata tak semudah yang gue bayangkan. Dulu waktu kecil gue sering membayangkan bagaimana manusia tumbuh menjadi dewasa. Ternyata menjadi dewasa itu semakin menambah beban dan masalah. Mungkin ada rasa penyesalan ketika tumbuh menjadi manusia dewasa. Tidak seperti waktu gue kecil bermain bebas kemana-mana tanpa beban, pulang ke rumah tinggal makan tanpa memikirkan beban biaya hidup sehari-hari.

Menjadi seorang ayah harus siap lahir maupun batin. Terkadang lahirnya sudah siap tapi batin yang belum siap, bahkan sebaliknya. Beban seorang ayah untuk menghidupi anak dan istri, sama seperti waktu ayah membesarkan gue. Perjuangan mendampingi seorang istri yang sedang hamil muda terkadang serba salah.

Sebagai seorang calon ayah harus menuruti semua kemauan istri contohnya pada saat sedang ngidam. Apapun keinginannya harus terpenuhi. Belum lagi harus mikir biaya kontrol dan USG setiap harinya. Itulah mengapa gue ingin menyampaikan kepada kalian bahwa menjadi seorang ayah tidak semudah yang kalian bayangkan. Banyak sekali perjuangan yang harus dilalui.

Rasanya senang ketika mendengar suara tangis anak gue untuk pertama kali. Sesuai dengan ajaran agama gue, telinga bayinya saya adzanin sebisa dan semampu gue, dengan sisa suara ala kadarnya setelah sempat grogi dan panik menghadapi kelahiran anak gue.

Rasa lega dan syukur kepada sang pencipta, anak gue lahir dengan kelamin perempuan. Sebuah tanggung jawab yang mungkin akan sedikit berat, karena mendidik anak perempuan harus mempunyai pengamanan yang cukup ketat. Apalagi anak gue cantik, takutnya kalau dia besar banyak diincar sama kucing garong.

Mengapa harus anak perempuan? Apakah ini karma buat gue? Apakah Tuhan ingin mengujiku bagaimana besok harus mendidik seorang anak perempuan?. Apapun itu saya terima dengan hati yang ikhlas, yang paling penting anak gue bisa lahir dengan tubuh yang normal dan tidak cacat.

Sekarang saya resmi menyandang gelar ayah atau bapak. Gue sih lebih suka dipanggil bapak saja, kalau ayah terkesan formal gitu. Seorang bapak yang dulunya pernah menjadi anak seorang bapak-bapak biasa yang bekerja sebagai penjual mainan. Gue terlahir dari keluarga yang biasa saja. Tidak kaya juga tidak terlalu miskin. Bapakku selalu menanamkan hidup mandiri dan tidak menggantungkan hidup kepada orang lain. Maka dari itu nasihatnya akan selalu gue ingat meskipun beliau sudah tiada.


Comments