Bahagia Bersamamu #Episode 5

             Kita tentunya tak akan tahu kapan kita akan mati , terkadang dengan hiruk pikuk keramaian dunia ini membuat kita sering melupakan akan kematian. pohon cemara yang tumbuh di sepanjang jalan gunung muria , memberikan arti sebuah makna bukti kekuasaan tuhan , air mata memancar bagaikan cahaya yang di rindukan sang rembulan , bersamamu aku menemukan arti hidup ini , bersamamu aku mulai tersadar jika kehidupan yang indah ini tak akan lama lagi akan berakhir. mungkinkah aku akan hidup seratus tahun lagi.?, rasanya mustahil jika kita membayangkanya. 

            Perjalanan cinta ini akan tetap abadi , semuanya tergantung pada diri kita masing - masing. akankah kita bisa mempertahankanya sampai akhir , atau suatu saat nanti kandas di tengah jalan bersama badai masa lalu yang tak berarti. senja sudah akan tiba , firman dan nadia masih menikmati indahnya air terjun montel di gunung muria , mereka berdua merupakan pasangan yang saling mengerti satu sama lain , beberapa orang pernah mengatakan kalau kedua pasangan tersebut memiliki perbedaan pandangan pikiran yang berbeda , nadia merupakan aktivis organisasi islam muhammadiyah , sudah sepuluh tahun ini nadia aktif di beberapa organisasi muhammadiyah salah satunya yaitu organisasi Aisiyah , sementara itu firman yang berlatar belakang pemuda lulusan gontor sekaligus alumni pondok pesantren lirboyo kediri , dia masih memegang tanggung jawabnya sebagai ketua organisasi Anshor yang merupakan bagian dari ormas islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdhatul Ulama.

             Walaupun mereka berdua berbeda organisasi namun keduanya sudah saling memahami tentang ajaran dan paham - paham yang selama ini mereka anut . kalau menurut saya semua organisasi islam itu baik , asalkan masih menganut ahlus sunnah wal jama'ah. mereka berdua adalah pasangan suami istri yang memiliki pemikiran maju , terkadang mereka berdua saling bekerjasama untuk menumpas beberapa permasalahan yang kerap sekali terjadi di lingkungan mereka , akhirnya dengan beberapa pendekatan dan sistem yang sudah berjalan , banyak warga sekitar yang merasa terbantu dengan adanya program - program yang mereka buat , salah satu contoh program yang sudah berkembang adalah budaya jama'ah sholat di masjid. mereka berdua sengaja membuat semacam ultimatum agar warga di sekitar rumahnya mau untuk melaksanakan sholat jama'ah di masjid . maka dari hasil kerja keras mereka berdua , sekarang ini firman dan nadia menjadi tokoh inspirasi untuk menjalankan kehidupan rumah tangga yang baik . dan banyak prestasi yang sudah mereka raih selama ini.

             Kebahagiaan ini tak akan berhenti sampai disini , perbedaan itu membawa rahmat bukan malah membawa bencana , kita tentunya sangat bersyukur di ciptakan Allah SWT dalam kondisi yang berbeda - beda , untuk itu bersyukurlah kalau perbedaan membawa rahmat . ada yang kaya ada juga yang miskin , ada yang pintar ada juga yang bodoh , ada yang baik ada juga yang tidak baik , semua berjalan seiring berputarnya hukum alam yang berlaku saat ini . terlihat firman dan nadia sedang menikmati derasnya aliran sungai di gunung muria , mereka berdua duduk di bawah pohon yang rindang , sembari itu mereka berdua saling mengintropeksi dirinya masing - masing.
"Mas Aan , gak terasa pernikahan kita sudah menginjak usia sepuluh tahun" ucap nadia sambil memegang tangan suaminya.
" Iya istriku , waktu sangatlah cepat berlalu" ucap firman
"Jika suatu saat nadia pergi , apakah mas akan mencari penggantiku.?"
"Wahai istriku , kamu itu bagaikan berlian putih yang menempel di hatiku , sampai kapanpun atau sampai ajal memisahkan kita , kang mas berharap Allah akan mempertemukan kita lagi di surgaNya".
"Ah , mas Aan bisa aja , hatiku jadi meleleh dengan ucapan mas" ucap nadia sambil memeluk firman dengan mesra.

             Waktu sudah mulai malam , mereka berdua terlihat saling bercanda dan bercumbu mesra di bawah pohon cemara , mungkin sudah saatnya mereka harus pulang ke rumah . cuaca yang cerah tiba - tiba berubah menjadi hujan lebat yang sungguh luar biasa , angin bertiup kencang , mereka berdua lari untuk mencari tempat berteduh . sampailah mereka berdua di sebuah gubuk kecil yang berisi banyak tumpukan rumput makanan sapi . setelah menunggu hujan reda , tiba - tiba ada suara seorang nenek yang merintih kesakita.
"Aduh..? , perutku kumat lagi" ucap seseorang yang berada di dalam gubuk tersebut.
nadia dan firman langsung menghampiri suara nenek tersebut yang berada di dalam gubuk.
"Ada apa nek.?" ucap firman
"Kalian siapa.?" ucap nenek tua tersebut.
"Saya cuman pengunjung di wisata gunung muria nek.?"
"Ouh, ada apa dengan perut nenek.?"
"sudah sehari semalam nenek tidak makan"
"lantas keluarga nenek yang lain dimana.?"
"Mereka sudah pergi meninggalkan nenek"
"kenapa kok bisa pergi nek.?"
"Hanya masalah warisan , tanah gubuk ini mau di jual , lha nenek gak setuju"
"Oalah begitu teganya ya anak nenek.?"
"Sekarang dimana dia berada nek.?"
"Tak tahu entah kemana dia pergi"
"Ya sudah nek , ini ada beberapa uang untuk beli makan ya nek.?"
"Iya nak , terimakasih banyak".

                 Di zaman yang sudah modern ini masih juga ada malin kundang yang berada di bumi ini , nadia dan firman sangat bersyukur dengan kondisi keluarga mereka yang masih berkecukupan , hanya masalah harta warisan saja semuanya berubah menjadi penderitaan , itulah dunia yang buta dengan akal sehat tanpa memikirkan akherat yang abadi untuk selama - lamanya.

mau tahu kisah selanjutnya , baca terus novel " seruling cinta "

Bersambing.,

Comments