Akhir Sebuah Penantian #Episode 12

          Langit pagi cerah ketika embun masih basah , udara sajak menyelimuti dinginya pagi ini bersama secangkir kopi buatan sang istri , waktu terus berlalu seiring berjalanya waktu . hidup ini indah , maka kita wajib bersyukur kepada yang menciptakan kehidupan ini , semua yang berawal pasti ada akhir , semua yang hidup pasti akan mati , semua yang bernafas pasti hidup , akan tetapi banyak orang yang bernafas namun masih belum tahu apa itu artinya hidup . kadang ujian dan cobaan menimpa kita , namun semua orang memandangnya dengan cara pandang yang berbeda - beda. ada sebagian orang yang menganggap kalau cobaan itu adzab dan ada juga yang menganggap kalau cobaan itu sebuah anugrah , yang mana kita bisa menikmati kehidupan karena cobaan tersebut.

         Setelah sekian lama firman di uji kesabaranya , akhirnya semua itu berakhir dengan kebahagiaan , tak terasa sudah tujuh bulan nadia mengandung seorang anak , tiap hari perutnya semakin membesar dan si jabang bayi sudah mulai menendang - nendang , setiap malam saat mau tidur , jabang bayi tersebut di setelkan musik islami dan ayat - ayat suci Al qur'an oleh ayahnya , agar suatu  saat nanti bayi ini akan menjadi seorang penghafal Al qur'an seperti ayahnya.
"Bunda, besok anak kita kira - kira laki apa perempuan ya.? ucap firman
"Kalau nadia sih yang penting nanti lahirnya selamat itu sudah cukup" ucap nadia
"Kalau ayah sendiri sih , pingin punya anak laki - laki penghafal Al Qur'an"
"Aamin" ucap nadia.

              Terlihat mereka berdua saling asyik bercengkrama di dalam kamar , semoga impian mereka berdua bisa tercapai , burung yang indah berterbangan di langit angkasa yang cerah , suasana haru tangis bahagia menyelimuti keluarga kecil yang tinggal di kamar kontrakan kecil . memang sengaja sejak dulu firman dan nadia ingin memisahkan diri dari kedua orang tuanya , mereka berdua ingin hidup mandiri dan tak mau merepotkan kedua orang tuanya , padahal kalau kita lihat , ayahnya si firman merupakan pengusaha percetakana terkenal di kota surabaya , sementara itu ayahnya nadia juga masih menjabat sebagai kepala desa mlaten. mereka berdua memang berasal dari ranah pendidikan yang sangat tinggi , etika moral dan akhlakul karimah sudah menjadi pelajaran mereka setiap hari.

           Walaupun orang tua kita kaya harta , namun kekayaan tersebut bukan milik kita , seperti halnya dengan firman dan nadia , pasangan suami istri anaknya orang kaya dan ternama , akan tetapi mereka berdua lebih memilih hidup yang sederhana dan ingin mandiri sendiri tidak seperti anak - anaknya orang kaya yang lain . kita tentunya harus mencontoh pribadi mereka berdua , bahwa harta belum tentu membahagiakan keluarga , namun cintalah yang bisa membahagiakan keluarga tersebut. hidup serba mewah dan mengikuti nafsu keinginan kita akan membawa dampak negatif pada diri kita , maka dari itu , kalau pingin kaya hati dan kaya harta , kita harus bisa hidup sederhana dan mau menerima apa adanya.

Bagaimana kelanjutan ceritanya.?
Baca terus edisi selanjutnya "Novel Seruling Cinta " 
Karya : Aan.k

Bersambung.,

Comments