menggunakan baju muslim rapi dan
menggunakan peci warna hitam , seluruh keluarga pak joni berbondong – bondong
datang ke rumah nadia untuk melamar seorang gadis kembang desa.
Di dalam rumah mereka di sambut hangat
oleh keluarga besar pak harun, saat itu kiai mursyid juga berada disana karena
kemarin di undang untuk acara tunanganya nadia. terlihat mereka saling ngobrol
kesana kemari dan saling bercanda satu sama lain, hingga sampai kepada proses
yang paling sakral ketika pak joni bersama juru bicaranya mulai berbicara
serius mengenai lamaran si rio , apakah lamaran tersebut di terima atau tidak.
“begini pak harun , tujuan kami kesini
yaitu untuk melamar nadia putri bapak agar mau menikah dengan putra saya ananda
rio , apakah bapak menerima lamaran kami.?” ucap juru bicaranya pak joni.
“sebelumnya saya minta maaf pak , mungkin
terdengar agak sakit di telinga bapak , tapi setelah saya bermusyawarah dengan
keluarga serta pak kiai mursyid , kami memutuskan untuk menolak lamaran bapak”
ucap pak harun .
“Apa.!” Ucap pak joni sambil menggubrak
meja dengan suara yang keras , sontak membuat para tamu dan keluarga tercengang
melihat kejadian ini .
“sabar pak joni, sabar, kita bisa
selesaikan dengan tangan dingin” ucap juru bicaranya pak joni.
“Pokoknya saya tidak terima , saya Haji
Joni Bahtiar konglomerat desa terkaya di desa ini , mengutuk anda bersama
keluarga karena telah mengecewakan saya.!” ucap pak joni marah besar.
Terlihat pak harun hanya bisa terdiam
sambil menundukkan kepala , dan saat itu tiba – tiba penyakit jantung bu hajjah
aminah kumat lagi karena mendengar suara pak joni yang keras sehingga dia
langsung pingsan seketika di lokasi , saat itu nadia langsung keluar dari
kamarnya dan menampar si rio sebagai pelampiasan kemarahanya. Karena gara –
gara pak joni marah, bu hajjah aminah jadi pingsan tak sadarkan diri.
“ayo semuanya , kita pergi dari tempat
ini, dasar pengecut.!” Ucap pak joni, setelah itu semuanya langsung pergi
meninggalkan lokasi , hanya tersisa kiai mursyid yang masih ada di dalam rumah
, beliau sempat memberikan solusi serta beberapa nasehatnya kepada pak harun.
“pak harun , kamu lihat apa yang terjadi
tadi, sungguh pak joni itu orangnya mudah sekali emosi” ucap pak mursyid
“saya sebagai kepala desa disini malu pak
kiai” ucap pak harun sambil memegang kepalanya yang mulai bingung setelah
kejadian ini.
“kenapa harus malu , ini semuakan hak
dari keluarga sampeyan”
“tapi saya malu di lihat warga sekitar
pak kiai.?” ucap pak harun
“warga sendiri tahu dan akan menyadari
kalau sebenarnya pak joni itu orangnya tidak baik , ya sudah tenangkanlah
dirimu , jangan sampai masalah ini menjadi beban pikiran buat kamu” ucap pak
kiai
“iya pak kiai , terimakasih atas
bantuanya selama ini.
Terlihat ibu hajjah aminah masih belum
sadar juga , hingga setelah beberapa jam menunggu, ibu hajjah aminah langsung
di larikan ke rumah sakit sultan agung semaran lagi.
“bu , bangun ibu , bu bangun.!” Ucap
nadia sambil menangis , berharap sang ibu sadar kembali.
“kamu yang sabar ya nduk.?” ucap emak
atun yang saat itu juga mendampingi hajjah aminah ke rumah sakit.
Sudah satu bulan peristiwa memalukan itu
terjadi , banyak masyarakat yang dulunya suka bersama pak harun , namun kini
sepi tak ada yang terlihat , apalagi sampai menyapa pak lurah , itupun tidak. lantas
apakah gara – gara pak harun yang dulu menolak lamaran pak joni , hingga
persepsi masyarakat sekarang sudah berbeda, apakah mungkin ada salah satu orang
yang sengaja mengkudeta pak lurah hingga kejadianya bisa seperti ini.
Inilah kerudung merah yang selalu menjadi
primadona oleh seorang gadis desa yang berparas cantik. Kerudung merah inilah
yang menjadi saksi cinta suci mereka , kerudung merah inilah yang menjadi kenangan
terindah untuknya dan kerudung merah inilah yang selalu memberikan untaian do’a
serta nilai – nilai kehidupan yang penuh dengan makna. dan tak terasa kurang
satu tahun lagi kerudung merah ini akan kembali lagi kepada si pemiliknya. Akankah
nadia mampu mempertahankan kerudung merahnya ini.? simak terus ceritanya.

Comments
Post a Comment