kerudung merah untuk adinda 5



menggunakan baju muslim rapi dan menggunakan peci warna hitam , seluruh keluarga pak joni berbondong – bondong datang ke rumah nadia untuk melamar seorang gadis kembang desa.

Di dalam rumah mereka di sambut hangat oleh keluarga besar pak harun, saat itu kiai mursyid juga berada disana karena kemarin di undang untuk acara tunanganya nadia. terlihat mereka saling ngobrol kesana kemari dan saling bercanda satu sama lain, hingga sampai kepada proses yang paling sakral ketika pak joni bersama juru bicaranya mulai berbicara serius mengenai lamaran si rio , apakah lamaran tersebut di terima atau tidak.
“begini pak harun , tujuan kami kesini yaitu untuk melamar nadia putri bapak agar mau menikah dengan putra saya ananda rio , apakah bapak menerima lamaran kami.?” ucap juru bicaranya pak joni.
“sebelumnya saya minta maaf pak , mungkin terdengar agak sakit di telinga bapak , tapi setelah saya bermusyawarah dengan keluarga serta pak kiai mursyid , kami memutuskan untuk menolak lamaran bapak” ucap pak harun .
“Apa.!” Ucap pak joni sambil menggubrak meja dengan suara yang keras , sontak membuat para tamu dan keluarga tercengang melihat kejadian ini .
“sabar pak joni, sabar, kita bisa selesaikan dengan tangan dingin” ucap juru bicaranya pak joni.
“Pokoknya saya tidak terima , saya Haji Joni Bahtiar konglomerat desa terkaya di desa ini , mengutuk anda bersama keluarga karena telah mengecewakan saya.!” ucap pak joni marah besar.

Terlihat pak harun hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepala , dan saat itu tiba – tiba penyakit jantung bu hajjah aminah kumat lagi karena mendengar suara pak joni yang keras sehingga dia langsung pingsan seketika di lokasi , saat itu nadia langsung keluar dari kamarnya dan menampar si rio sebagai pelampiasan kemarahanya. Karena gara – gara pak joni marah, bu hajjah aminah jadi pingsan tak sadarkan diri.

“ayo semuanya , kita pergi dari tempat ini, dasar pengecut.!” Ucap pak joni, setelah itu semuanya langsung pergi meninggalkan lokasi , hanya tersisa kiai mursyid yang masih ada di dalam rumah , beliau sempat memberikan solusi serta beberapa nasehatnya kepada pak harun.
“pak harun , kamu lihat apa yang terjadi tadi, sungguh pak joni itu orangnya mudah sekali emosi” ucap pak mursyid
“saya sebagai kepala desa disini malu pak kiai” ucap pak harun sambil memegang kepalanya yang mulai bingung setelah kejadian ini.
“kenapa harus malu , ini semuakan hak dari keluarga sampeyan”
“tapi saya malu di lihat warga sekitar pak kiai.?” ucap pak harun
“warga sendiri tahu dan akan menyadari kalau sebenarnya pak joni itu orangnya tidak baik , ya sudah tenangkanlah dirimu , jangan sampai masalah ini menjadi beban pikiran buat kamu” ucap pak kiai
“iya pak kiai , terimakasih atas bantuanya selama ini.

Terlihat ibu hajjah aminah masih belum sadar juga , hingga setelah beberapa jam menunggu, ibu hajjah aminah langsung di larikan ke rumah sakit sultan agung semaran lagi.
“bu , bangun ibu , bu bangun.!” Ucap nadia sambil menangis , berharap sang ibu sadar kembali.
“kamu yang sabar ya nduk.?” ucap emak atun yang saat itu juga mendampingi hajjah aminah ke rumah sakit.

Sudah satu bulan peristiwa memalukan itu terjadi , banyak masyarakat yang dulunya suka bersama pak harun , namun kini sepi tak ada yang terlihat , apalagi sampai menyapa pak lurah , itupun tidak. lantas apakah gara – gara pak harun yang dulu menolak lamaran pak joni , hingga persepsi masyarakat sekarang sudah berbeda, apakah mungkin ada salah satu orang yang sengaja mengkudeta pak lurah hingga kejadianya bisa seperti ini.

Inilah kerudung merah yang selalu menjadi primadona oleh seorang gadis desa yang berparas cantik. Kerudung merah inilah yang menjadi saksi cinta suci mereka , kerudung merah inilah yang menjadi kenangan terindah untuknya dan kerudung merah inilah yang selalu memberikan untaian do’a serta nilai – nilai kehidupan yang penuh dengan makna. dan tak terasa kurang satu tahun lagi kerudung merah ini akan kembali lagi kepada si pemiliknya. Akankah nadia mampu mempertahankan kerudung merahnya ini.? simak terus ceritanya.

Comments