“kalau nadia sendiri sudah yakin bu dan nadia cinta sama firman”
“bukanya ibu bermaksud menyinggung hatimu
, yang namanya jodohkan kita tidak tahu.?” ucap ibu aminah.
“iya bu , tapi saya tetap yakin mas
firmanlah yang akan menjadi jodohku”
“ya udah kalau kamu masih yakin dengan
pilihanmu , besok pak joni dan anaknya mau kesini , katanya sih mau melamar
kamu.?” ucap bu aminah
“hah.! , si rio mau melamar aku.!” Ucap
nadia sangat terkejut dengan kabar itu, sontak nadia langsung ke luar dari
kamar dan berlari keluar entah kemana.
“nadia.! kamu mau kemana.! ucap bu aminah
dengan nada yang cukup keras
Saat itu nadia berlari kencang sambil
menangis meratapi kesedihanya dan bermaksud membuang rasa sakit hatinya.
“papah , papah” ucap bu aminah dengan
suara gugup kepada pak harun
“ada apa sih mah kok sampe gugup gitu
bicaranya” ucap pak harun
“nadia pah , nadia kabur dari rumah” ucap
bu aminah dengan suara terbata –bata.
“hah.! kok bisa kabur dari rumah bu.? ,
ayo kita cari dia bersama – sama” ucap pak harun.
“udah gak usah pah , paling – paling dia
kabur ke rumahnya pak kiai mursyid”
“kamu ini gimana, anaknya hilang malah di
biarin , ya udah biar papa sendiri yang mencarinya”ucap pak harun sedikit emosi
dengan istrinya.
Suasana keluarga semakin hari semakin memanas
, setelah nadia merasa kecewa kalau besok nadia akan di lamar oleh si rio
anaknya pak joni , malam sudah semakin larut sementara nadia masih melarikan
diri dari rumahnya tak tahu entah kemana dia pergi , sementara itu ayahnya
dengan susah payah mencarinya karena sang ayah khawatir jikalau ada sesuatu hal
yang menimpa dirinya. Mungkin hati nadia sekarang lagi sakit hati dan bingung
dengan masa depanya , akankah hubungan nadia akan bertahan dengan firman , atau
mungkin nadia ikut pendapat dari orang tuanya.
Malam yang indah semakin larut, saat ini
nadia berada di rumahnya kiai mursyid , mungkin untuk malam ini dia akan
menginap disana , namun pak kiai mulai curiga dengan tingkah laku nadia yang
mulai aneh , saat itu nadia sedang duduk di ruang tamu , lantas hajjah khadijah
bertanya kepada nadia yang saat itu sedang duduk bersama pak kiai mursyid.
“nadia, kelihatanya wajahmu kok bingung
gitu, kayaknya ada masalah yang kamu pendam dalam hati, ceritakan saja sama
abah , barang kali ada solusi untuk memecahkan masalah yang sedang kamu hadapi
saat ini.?” ucap bu hajjah khadijah sembari memberikan kopi hangat kepada
suaminya.
“saya baik – baik saja bu hajjah
khadijah, nadia cuman ingin menghindar saja dari rumah” ucap nadia sambil
menundukkan kepala.
“kenapa kok bisa gitu , kasihan bapak
kalau mencari kamu dengan susah payah” ucap kiai mursyid.
“ceritanya gini pak , sebenarnya nadia
itu sudah saling ta’arufan dengan mas firman dan kami berdua sudah mengucapkan
janji untuk menikah , akan tetapi besok si rio anaknya pak joni akan datang ke
rumah untuk melamar saya pak kiai , saya sebenarnya gak suka sama rio , jadi
saya agak sedikit jengkel dengan kondisi di rumah saat ini” ucap nadia panjang
lebar kepada pak kiai.
“saya sudah paham semua dengan apa yang
kamu maksud itu , tapi caranya tidak seperti ini , lebih baik kamu pulang ke
rumah dan ngomong sama ayah dan ibumu kalau kamu gak suka sama si rio, di dalam
islam hukum khitbah sendiri memang di perbolehkan , tapi hal tersebut tidak ada
paksaan kepada seorang wanita yang akan di khitbah , sekarang tidak seperti
zaman siti nurbaya , dan semua keputusan ada di tangan kamu sendiri” ucap kiai
mursyid.
“kalau gitu saya harus bagaimana pak
kiai.?” ucap nadia yang sedikit lega mendengar nasehat dari kiai mursyid.
“ ya sudah kalau gitu setelah ini kamu
saya anter pulang ke rumah , biar abah mursyid yang ngomong sama orang tuamu”
ucap kiai mursyid.
“terimakasih banyak pak kiai, do’akan
nadia sama mas firman nanti bisa menjadi jodoh saya”.
“Aamiin , serahkan semuanya yang terbaik
kepada Allah SWT”.
Setelah mendengar pencerahan dari pak
kiai , akhirnya nadia mulai sadar , kalau cinta itu gak boleh di paksa .
semuanya itu lahir dari hati yang paling dalam. Malam ini nadia di antar
langsung oleh kiai mursyid ke rumahnya dengan mengendarai sepeda motor matic. Setelah
sampai di rumah , terlihat pak harun sedang termenung di teras rumah , mungkin
dia sedang memikirkan masa depan anaknya atau mungkin lagi bingung dengan
garapan sawahnya.
“Assalamualikum pak de harun.?”
“Waalaikumsalam pak kiai” ucap pak harun
“kedatangan saya kesini untuk mengantar
anak bapak , tadi dia sudah curhat panjang lebar kepada saya , tolong nadia
kalau di rumah jangan di keras cara mendidiknya , sekarang saya mau ngomong
sama kamu empat mata” ucap pak kiai.
“sembiko
dawuh pak kiai , monggo lenggah
rumiyen disini” ucap pak harun sopan dengan bahasa jawa halus.
Saat itu nadia masih diam , tanpa basa
basi lagi dia bergegas menuju ke rumah , dan saat itu dia langsung bertemu
dengan ibunya yang sedang duduk di kursi sofa , terlihat sang ibu sedang
menangis.
“ibu, maafkan nadia ya bu.?” ucap nadia
dengan meneteskan air mata kesedihanya.
“bukan kamu yang salah nadia , ibu yang salah ngomong sama kamu , seharusnya ibu sadar diri dengan perasaan kamu saat ini” ucap ibu aminah
“bukan kamu yang salah nadia , ibu yang salah ngomong sama kamu , seharusnya ibu sadar diri dengan perasaan kamu saat ini” ucap ibu aminah
“iya bu , nadia maafin , tapi besok pak
joni sekeluarga jadi datang ke rumah kita atau tidak.?”
“kayaknya dia jadi kesini , tapi kalau
kamu masih suka sama si firman ,maka pertahankan cintamu itu kepadanya” ucap bu
aminah sambil mengusap air mata nadia dan membelai rambut indahnya.
“nadia masih sayang sama mas firman bu.?”
“kalau memang keputusanmu seperti itu ,
ibu sadar dan memakluminya , yang penting kalau keluarga pak joni datang kesini
, kamu tetap menghormatinya sebagai tamu , terus untuk urusan iya atau tidaknya
lamaranya nanti biar ayah dan ibu yang mengurus , tapi ayah dan ibu sadar akan
menolak lamaran si rio” ucap bu aminah dengan jelas kepada nadia.
“Alhamdulillah , ibu baik sekali deh”
ucap nadia sambil tersenyum sambil memeluk tubuh ibunya .
Sementara itu di luar rumah , kiai
mursyid dan pak harun saling berbincang – bincang mengenai masalah pak joni
yang akan melamar nadia besok, terlihat mereka berdua sangat asyik ngobrol
kesana kemari seperti teman sendiri sambil menghisap asap putih dan di temani
secangkir kopi panas di malam hari.
“pak harun , denger – denger pak joni mau
melamar nadia.?” ucap kiai mursyid
“iya pak kiai , kemarin dia bilang kepada
saya langsung”
“terus besok gimana , kamu akan menerima
lamaranya atau menolaknya.?”
“kalau saya sendiri sih, pingin sekali
besanan sama pak joni , karena pak joni sendiri kan memiliki bisnis yang luar
biasa , apalagi anaknya juga ganteng”ucap pak harun.
“kalau gitu keputusanya seperti ini, kamu
mau pilih dunia tok apa akherat sama dunianya ikut” ucap kiai mursyid sambil
menepuk pundak pak harun erat – erat.
“kalau saya sendiri sih pilih dunia sama
akheratnya pak kiai.?” Ucap pak harun sedikit bergemetar.
“gak usah gemeteran gitu , santai saja
sama saya, nah kalau gitu kamu seharusnya memilih firman saja daripada si rio ,
kalau si rio sudah jelas anaknya orang kaya , namun coba kamu perhatikan
anaknya sekarang , saya melihat dengan mata kepala saya sendiri , setiap malam
si rio sering kelayapan tak tahu entah kemana, sedangkan si firman sudah hafal
al qur’an 30 juz dan yang saya tahu dia anak yang sangat luar biasa sopan santunya
kepada orang tua, saya tahu perasaanmu saat ini yang sedang terkena musibah
gagal panen , tapi terus kamu jangan egois seperti itu , kasihan nadia yang
sudah lama cinta sama si firman , jika kamu memilih si firman , maka dunia dan
akhiratmu akan ikut semua , InsyaAllah” ucap pak kiai panjang lebar kepada pak
harun.
“iya pak kiai saya mengerti dengan apa
yang sampeyan maksud dan sekarang saya mulai sadar , kalau dunia bukanlah
segala – galanya untuk keluarga kami, mungkin ini Allah SWT sedang menguji saya
, apakah saya bisa bersabar atau saya sendiri yang terlalu ego menuruti nafsu
keinginan saya” ucap pak harun sambil menundukkan kepalanya.
“jadi gimana keputusanya.?”
“keputusanya lamaran pak joni tidak akan
saya terima” ucap pak harun.
“Alhamdulillah , semoga Allah memberikan
yang terbaik untuk keluargamu”
“Aamin , terimakasih banyak pak kiai
sudah memberika solusi dan nasehatnya kepada saya”.
Akhirnya ayah dan ibu sepakat akan
menolak lamaranya pak joni, mendengar semua keputusan tersebut nadia sudah bisa
tersenyum lagi dan semua masalah ini akan dijadikan pengalaman hidup dalam
dirinya , kini dia terbaring di atas kasur sambil memeluk erat kerudung merah
pemberian si firman , hanya dengan kerudung merah tersebut yang bisa mengobati
rasa kangen nadia kepada mas firman , kini nadia tinggal menunggu beberapa
bulan lagi untuk kedatangan mas firman pulang ke rumah .

Comments
Post a Comment