kerudung merah untuk adinda 4



“kalau nadia sendiri sudah  yakin bu dan nadia cinta sama firman”
“bukanya ibu bermaksud menyinggung hatimu , yang namanya jodohkan kita tidak tahu.?” ucap ibu aminah.
“iya bu , tapi saya tetap yakin mas firmanlah yang akan menjadi jodohku”
“ya udah kalau kamu masih yakin dengan pilihanmu , besok pak joni dan anaknya mau kesini , katanya sih mau melamar kamu.?” ucap bu aminah
“hah.! , si rio mau melamar aku.!” Ucap nadia sangat terkejut dengan kabar itu, sontak nadia langsung ke luar dari kamar dan berlari keluar entah kemana.
“nadia.! kamu mau kemana.! ucap bu aminah dengan nada yang cukup keras
Saat itu nadia berlari kencang sambil menangis meratapi kesedihanya dan bermaksud membuang rasa sakit hatinya.

“papah , papah” ucap bu aminah dengan suara gugup kepada pak harun
“ada apa sih mah kok sampe gugup gitu bicaranya” ucap pak harun
“nadia pah , nadia kabur dari rumah” ucap bu aminah dengan suara terbata –bata.
“hah.! kok bisa kabur dari rumah bu.? , ayo kita cari dia bersama – sama” ucap pak harun.
“udah gak usah pah , paling – paling dia kabur ke rumahnya pak kiai mursyid”
“kamu ini gimana, anaknya hilang malah di biarin , ya udah biar papa sendiri yang mencarinya”ucap pak harun sedikit emosi dengan istrinya.

Suasana keluarga semakin hari semakin memanas , setelah nadia merasa kecewa kalau besok nadia akan di lamar oleh si rio anaknya pak joni , malam sudah semakin larut sementara nadia masih melarikan diri dari rumahnya tak tahu entah kemana dia pergi , sementara itu ayahnya dengan susah payah mencarinya karena sang ayah khawatir jikalau ada sesuatu hal yang menimpa dirinya. Mungkin hati nadia sekarang lagi sakit hati dan bingung dengan masa depanya , akankah hubungan nadia akan bertahan dengan firman , atau mungkin nadia ikut pendapat dari orang tuanya.

Malam yang indah semakin larut, saat ini nadia berada di rumahnya kiai mursyid , mungkin untuk malam ini dia akan menginap disana , namun pak kiai mulai curiga dengan tingkah laku nadia yang mulai aneh , saat itu nadia sedang duduk di ruang tamu , lantas hajjah khadijah bertanya kepada nadia yang saat itu sedang duduk bersama pak kiai mursyid.
“nadia, kelihatanya wajahmu kok bingung gitu, kayaknya ada masalah yang kamu pendam dalam hati, ceritakan saja sama abah , barang kali ada solusi untuk memecahkan masalah yang sedang kamu hadapi saat ini.?” ucap bu hajjah khadijah sembari memberikan kopi hangat kepada suaminya.
“saya baik – baik saja bu hajjah khadijah, nadia cuman ingin menghindar saja dari rumah” ucap nadia sambil menundukkan kepala.
“kenapa kok bisa gitu , kasihan bapak kalau mencari kamu dengan susah payah” ucap kiai mursyid.
“ceritanya gini pak , sebenarnya nadia itu sudah saling ta’arufan dengan mas firman dan kami berdua sudah mengucapkan janji untuk menikah , akan tetapi besok si rio anaknya pak joni akan datang ke rumah untuk melamar saya pak kiai , saya sebenarnya gak suka sama rio , jadi saya agak sedikit jengkel dengan kondisi di rumah saat ini” ucap nadia panjang lebar kepada pak kiai.
“saya sudah paham semua dengan apa yang kamu maksud itu , tapi caranya tidak seperti ini , lebih baik kamu pulang ke rumah dan ngomong sama ayah dan ibumu kalau kamu gak suka sama si rio, di dalam islam hukum khitbah sendiri memang di perbolehkan , tapi hal tersebut tidak ada paksaan kepada seorang wanita yang akan di khitbah , sekarang tidak seperti zaman siti nurbaya , dan semua keputusan ada di tangan kamu sendiri” ucap kiai mursyid.
“kalau gitu saya harus bagaimana pak kiai.?” ucap nadia yang sedikit lega mendengar nasehat dari kiai mursyid.
“ ya sudah kalau gitu setelah ini kamu saya anter pulang ke rumah , biar abah mursyid yang ngomong sama orang tuamu” ucap kiai mursyid.
“terimakasih banyak pak kiai, do’akan nadia sama mas firman nanti bisa menjadi jodoh saya”.
“Aamiin , serahkan semuanya yang terbaik kepada Allah SWT”.

Setelah mendengar pencerahan dari pak kiai , akhirnya nadia mulai sadar , kalau cinta itu gak boleh di paksa . semuanya itu lahir dari hati yang paling dalam. Malam ini nadia di antar langsung oleh kiai mursyid ke rumahnya dengan mengendarai sepeda motor matic. Setelah sampai di rumah , terlihat pak harun sedang termenung di teras rumah , mungkin dia sedang memikirkan masa depan anaknya atau mungkin lagi bingung dengan garapan sawahnya.
“Assalamualikum pak de harun.?”
“Waalaikumsalam pak kiai” ucap pak harun
“kedatangan saya kesini untuk mengantar anak bapak , tadi dia sudah curhat panjang lebar kepada saya , tolong nadia kalau di rumah jangan di keras cara mendidiknya , sekarang saya mau ngomong sama kamu empat mata” ucap pak kiai.
sembiko dawuh pak kiai , monggo lenggah rumiyen disini” ucap pak harun sopan dengan bahasa jawa halus.
Saat itu nadia masih diam , tanpa basa basi lagi dia bergegas menuju ke rumah , dan saat itu dia langsung bertemu dengan ibunya yang sedang duduk di kursi sofa , terlihat sang ibu sedang menangis.
“ibu, maafkan nadia ya bu.?” ucap nadia dengan meneteskan air mata kesedihanya.
“bukan kamu yang salah nadia , ibu yang salah ngomong sama kamu , seharusnya ibu sadar diri dengan perasaan kamu saat ini” ucap ibu aminah
“iya bu , nadia maafin , tapi besok pak joni sekeluarga jadi datang ke rumah kita atau tidak.?”
“kayaknya dia jadi kesini , tapi kalau kamu masih suka sama si firman ,maka pertahankan cintamu itu kepadanya” ucap bu aminah sambil mengusap air mata nadia dan membelai rambut indahnya.
“nadia masih sayang sama mas firman bu.?”
“kalau memang keputusanmu seperti itu , ibu sadar dan memakluminya , yang penting kalau keluarga pak joni datang kesini , kamu tetap menghormatinya sebagai tamu , terus untuk urusan iya atau tidaknya lamaranya nanti biar ayah dan ibu yang mengurus , tapi ayah dan ibu sadar akan menolak lamaran si rio” ucap bu aminah dengan jelas kepada nadia.
“Alhamdulillah , ibu baik sekali deh” ucap nadia sambil tersenyum sambil memeluk tubuh ibunya .
Sementara itu di luar rumah , kiai mursyid dan pak harun saling berbincang – bincang mengenai masalah pak joni yang akan melamar nadia besok, terlihat mereka berdua sangat asyik ngobrol kesana kemari seperti teman sendiri sambil menghisap asap putih dan di temani secangkir kopi panas di malam hari.
“pak harun , denger – denger pak joni mau melamar nadia.?” ucap kiai mursyid
“iya pak kiai , kemarin dia bilang kepada saya langsung”
“terus besok gimana , kamu akan menerima lamaranya atau menolaknya.?”
“kalau saya sendiri sih, pingin sekali besanan sama pak joni , karena pak joni sendiri kan memiliki bisnis yang luar biasa , apalagi anaknya juga ganteng”ucap pak harun.
“kalau gitu keputusanya seperti ini, kamu mau pilih dunia tok apa akherat sama dunianya ikut” ucap kiai mursyid sambil menepuk pundak pak harun erat – erat.
“kalau saya sendiri sih pilih dunia sama akheratnya pak kiai.?” Ucap pak harun sedikit bergemetar.
“gak usah gemeteran gitu , santai saja sama saya, nah kalau gitu kamu seharusnya memilih firman saja daripada si rio , kalau si rio sudah jelas anaknya orang kaya , namun coba kamu perhatikan anaknya sekarang , saya melihat dengan mata kepala saya sendiri , setiap malam si rio sering kelayapan tak tahu entah kemana, sedangkan si firman sudah hafal al qur’an 30 juz dan yang saya tahu dia anak yang sangat luar biasa sopan santunya kepada orang tua, saya tahu perasaanmu saat ini yang sedang terkena musibah gagal panen , tapi terus kamu jangan egois seperti itu , kasihan nadia yang sudah lama cinta sama si firman , jika kamu memilih si firman , maka dunia dan akhiratmu akan ikut semua , InsyaAllah” ucap pak kiai panjang lebar kepada pak harun.
“iya pak kiai saya mengerti dengan apa yang sampeyan maksud dan sekarang saya mulai sadar , kalau dunia bukanlah segala – galanya untuk keluarga kami, mungkin ini Allah SWT sedang menguji saya , apakah saya bisa bersabar atau saya sendiri yang terlalu ego menuruti nafsu keinginan saya” ucap pak harun sambil menundukkan kepalanya.
“jadi gimana keputusanya.?”
“keputusanya lamaran pak joni tidak akan saya terima” ucap pak harun.
“Alhamdulillah , semoga Allah memberikan yang terbaik untuk keluargamu”
“Aamin , terimakasih banyak pak kiai sudah memberika solusi dan nasehatnya kepada saya”.

Akhirnya ayah dan ibu sepakat akan menolak lamaranya pak joni, mendengar semua keputusan tersebut nadia sudah bisa tersenyum lagi dan semua masalah ini akan dijadikan pengalaman hidup dalam dirinya , kini dia terbaring di atas kasur sambil memeluk erat kerudung merah pemberian si firman , hanya dengan kerudung merah tersebut yang bisa mengobati rasa kangen nadia kepada mas firman , kini nadia tinggal menunggu beberapa bulan lagi untuk kedatangan mas firman pulang ke rumah .

sore itu rumah nadia terlihat ramai dengan orang – orang yang mengiringi kedatangan pak joni ke rumahnya, ada yang membawa cincin emas yang di pajang di leher patung ayam jago , selain itu banyak juga yang membawakan makanan untuk di berikan kepada nadia , terlihat pak joni menggunakan jas hitam rapi lengkap dengan kacamata dan topi koboy nya , sedangkan si rio

Comments