namun di saat kebahagiaan itu datang ,
cobaan datang silih berganti menimpa keluarga bapak kades , baru – baru ini
sawah yang di garap pak harun mengalami kerugian yang sangat besar , hujan
turun deras mengguyur desa mlaten selama satu minggu penuh. Pagi , siang dan
sore selalu hujan dan mendung , akibatnya banyak ladang milik warga yang
mengalami kebanjiran. Mendengar peristiwa itu , ayah firman yang berada di
surabaya cukup sedih dengan kejadian tersebut.
Pagi yang indah di temani segelas kopi
hangat , pak harun membaca berita pagi koran suara merdeka di teras rumah ,
saat ini di Kairo Mesir tengah berlangsung pemberontakan atas kudeta presiden
mesir yang baru – baru ini terpilih menjadi presiden , peristiwa pemberontakan
ini semakin memanas hingga seluruh akses jalan di tutup , tak hanya itu saja ,
banyak mahasiswa asing yang di culik agar dia mau ikut kelompok pemberontakan
anti pemerintah tersebut. sejak saat ini sudah banyak korban yang berjatuhan ,
dari peristiwa tersebut seluruh kegiatan belajar mengajar di kota kairo
terlihat sepi , apalagi demonstran sudah banyak yang memadati kawasa
universitas Al azhar Mesir.
Setelah membaca kabar berita tersebut ,
pak harun semakin khawatir dengan nasib si firman yang sedang kuliah disana ,
saat itu pak harun langsung memanggil nadia.
“Nadia.!” Ucap pak harun dengan suara
keras
“iya ayah , jangan keras – keras
manggilnya , nadia udah denger kok” ucap nadia. lalu saat itu datanglah nadia
kepada ayahnya yang sedang membaca koran di teras rumah.
“ada kabar berita di koran kalau di mesir
sedang ada pemberontakan anti pemerintah secara besar – besaran, saya khawatir
dengan firman disana.?” ucap pak harun kepada nadia.
“Astaga.!, dimana kejadian tersebut pak ,
Negara Mesir kan luas.?” Ucap nadia sedikit panik .
“kejadianya berada di pusak ibu kota
mesir dan sekarang sudah mulai memadati Universitas Al Azhar Mesir” ucap pak
harun.
“lho , itukan tempatnya mas firman kuliah
disana.?” ucap nadia dengan raut wajah sedih.
“ ya sudah kamu berdo’a saja , supaya si
firman baik – baik saja disana”.
Setelah mendengar kabar tersebut , nadia
langsung menuju kamar dan menutup kunci rapat – rapat , saat itu dia
mengeluarkan kerudung merah yang ia simpan di dalam almari , terlihat dia mulai
menangis dan meneteskan air mata . rasa cemas , rindu dan khawatir bercampur
aduk di dalam hati seorang gadis putri bapak kades ini. dia terus mencium
kerudung merah pemberian mas firman , nadia berharap agar tidak terjadi suatu
hal yang membahayakan firman disana , namun rasa khawatir dan gelisah masih ada
di dalam hati , sungguh untuk memperjuangkan cinta di butuhkan pengorbanan yang
sungguh luar biasa , cinta ini bukanlah cinta yang biasa , sulit memang untuk
menaruh kepercayaan yang berada di lubuk hati paling dalam, akan tetapi nadia
terus bersabar , walau semenjak dia berhubungan dengan si firman , banyak
sekali cobaan yang datang kepada dirinya , termasuk kabar yang tak sedap ini.
namun nadia tetap yakin , bahwa sesuatu yang indah akan datang menghampiri
dirinya suatu saat nanti.
Malam yang indah di temani bintang di
langit, suasana kesedihan telah berlalu, kini nadia harus bisa sabar menghadapi
semua cobaan yang menimpa dirinya saat ini , terdengar kabar kalau firman di
Mesir baik – baik saja , akan tetapi dia masih mengungsi di Kantor Kedutaan
Besar Indonesia bersama dengan mahasiswa lainya. setiap kali nadia kangen sama
firman , pasti kerudung merah tersebut yang menjadi pelepas rindunya. Hingga
suatu hari kerudung merah tersebut pernah hilang , sontak membuat nadia
kebingungan untuk mencarinya, setelah beberapa hari di cari namun masih belum
ketemu juga, lalu nadia bertanya kepada ibunya.
“bunda , kemarin lihat kerudung merah gak
di kamar nadia.?”
“kerudung yang mana, ibu kok lupa” ucap
bu hajjah aminah yang baru saja sembuh dengan penyakit jantungnya.
“kerudung warna merah bu.?” Ucap nadia
dengan raut wajah agak kebingungan.
“oh iya ibu ingat” ucap bu aminah ,
mendengar jawaban tersebut nadia mulai lega.
“dimana bu.?” ucap nadia berharap
kerudung merah tersebut bisa ketemu lagi.
“kayaknya sudah ibu kasihkan kepada emak
atun , pembantunya pak joni yang kemarin datang kesini , kasihan lho anak –
anaknya banyak yang bajunya sudah rusak , jadi ibu kasih juga baju – baju bekas
milik nadia dulu yang sekarang sudah tak terpakai lagi” ucap bu aminah panjang
lebar.
“Astaga.!, itu kerudung masih nadia pake
bu.?” ucap nadia sedikit kecewa
“kamu sih nempatinya yang gak bener ,
kemarin tergeletak di lantai , jadi ibu pikir sudah tak terpakai” ucap bu
aminah
“terus emak atun sekarang dimana
tinggalnya.?”
“tinggalnya ya di tempatnya pak joni ,
dia kan bekerja sebagai pembantu disana, maafin ibu ya , gara – gara ibu kamu
jadi bingung kayak gini” ucap bu aminah
“ha.! Pak joni” ucap nadia terkejut
mendengarnya.
“emang ada apa sih dengan kerudung merah
tersebut.?” ucap bu aminah sedikit penasaran , sampai – sampai nadia bingung
mencarinya kesana kemari.
“itu kerudung pemberian mas firman bu,
pokoknya panjang ceritanya” ucap nadia.
Hanya gara – gara kerudung merah itu
hilang membuat hati nadia sedikit kecewa dan berharap kerudung merah tersebut
bisa kembali lagi kepada dirinya. Memang maksud ibu aminah itu ingin membantu
orang yang tidak mampu , karena orang tersebut memang sedang membutuhkan
beberapa pakaian untuk anak – anaknya yang sudah rusak , namun sayang kerudung
merah tersebut juga ikut di kasihkan , karena ibu aminah tak tahu kalau
kerudung merah tersebut adalah kerudung pemberian mas firman kepada nadia , dan
saat itu nadia langsung bergegas ke rumahnya pak joni , sempat ada perang batin
di dalam hati nadia , jika dia nanti ke
ruamhnya pak joni , sudah pastikan kalau nanti bisa bertemu dengan si rio ,
mengigat nadia juga sangat benci dengan kelakuan si Rio terhadap dirinya .
apalagi sama pak joni yang orangnya agak genit jika melihat wanita cantik ,
namun di sisi lain nadia harus bisa mencari kerudung merah itu sampai ketemu ,
karena kerudung merah tersebut menjadi kerudung paling berharga di dalam
hidupnya.
Sore itu nadia pergi ke rumahnya pak joni
menggunakan sepeda berwarna biru untuk mengambil kerudung merah itu kempali
kepada emak atun. Setelah sampai di rumahnya pak joni , nadia harus memencet
tombol bel dulu agar dia bisa masuk ke rumahnya , namun saat itu dia menunggu
cukup lama, hingga datanglah pak satpam kepada nadia.
“ada perlu apa kesini dek.?” ucap pak
satpam
“saya mau ketemu sama emak atun pak.?”
ucap nadia sambil melihat megahnya rumah pak joni.
“waduh dek, kalau sore – sore kayak gini
biasanya emak atun pulang, tapi sebentar lagi kayaknya dia kesini lagi” ucap
pak satpam.
“ya udah pak terimakasih , saya tunggu
disini saja”
“masuk aja dek ke dalam rumah.?”
“enggak pak disini saja”
“ya sudah kalau gitu , bapak tinggal dulu
ya.?”.
Teryata hanya karena ingin mendapatkan
kerudung merah itu kembali, nadia harus rela menunggu di depan pintu gerbang
rumahnya pak joni , terlihat langit sudah ingin menangis yaitu pertanda akan
turun hujan , namun nadia tak beranjak pindah dari tempat dia berdiri , hingga
hujan yang sangat deras turun , dia masih tetap berdiri di pintu gerbang
rumahnya pak joni. Baju dan tubuhnya basah kuyup terkena air hujan, hingga
datanglah seorang wanita memakai pakaian kebaya datang menuju rumahnya pak
joni, saat itu dia langsung bertanya kepada nadia.
“ada apa neng , hujan deras kayak gini
kok gak cari tempat berteduh.?” ucap wanita tersebut.
“sampeyan yang namanya emak atun ya.?” ucap
nadia.
“iya neng , kamu kok bisa tahu kalau itu
namaku, kemarin ibukan yang pernah di kasih baju bekas oleh bu aminah.?” ucap
emak atun sambil berjalan menuju ke ruamhnya pak joni.
“iya neng , betul sekali, terus neng
sendiri siapa.?” ucap emak atun sedikit heran dengan seorang gadis yang satu
ini.
“saya nadia , anaknya bu aminah” ucap
nadia sambil tersenyum.
“MasyaAllah neng nadia , kok bisa sampai
kesini, emang ada perlu apa sama emak.?” ucap emak atun kepada nadia , dia baru
tahu kalau gadis ini anaknya lurah di desa ini.
“oh iya emak , kemarin emak sempet gak
nemukan kerudung merah yang bercampur dengan pakaian bekas yang dikasihkan ibu
kemarin” ucap nadia.
“masih neng, terus kenapa neng dengan
kerudung itu.?”
“ceritanya panjang pokoknya mak , tapi
saya ingin ngambil kerudung merah itu kembali, sebelumnya saya minta maaf ya
mak sudah merepotkan emak”
“ouh ya sudah kalau gitu besok saya anter
ke rumah neng nadia saja ya.?”
“terimakasih banyak mak”.
Saat nadia mau meninggalkan rumahnya pak
joni , tiba – tiba ada sesosok pria yang dari kejauhan memanggil – manggil nama
nadia dengan suara yang keras , ternyata cowok tersebut adalah si Rio anaknya
pak joni, dan saat itu nadia mencoba untuk berlari agar tidak bertemu dengan si
rio , namun setelah sampai di pintu gerbang , ternyata pintu gerbang tersebut
sudah terkunci dari luar.
“Hayo, mau kemana lagi kamu.?” ucap si
Rio sambil tertawa melihat nadia gak bisa lari kemana – mana.
“ngapain sih kamu selalu menganggu aku
rio.!” ucap nadia dengan suara agak keras.
“kamu sendiri yang salah , ngapain hujan –
hujan kayak gini main ke rumahku”
“itu bukan urusanmu.!” Ucap nadia dengan
wajah juteknya.
“mana kuncinya saya mau pulang ke rumah”
“kunci apa nadia yang cantik.?” Ucap rio
sambil terus menggoda nadia.
“kunci gerbang.!” Ucap nadia yang mulia
kesal dengan si Rio
“nih kuncinya , tapi dengan satu syarat.?”
Ucap rio sambil tersenyum nakal
“apa syaratnya.!”
“kamu harus mengatakan kata – kata
seperti ini , “mas rio yang ganteng , bolehkah saya mengambil kunci ini.?” ucap
rio
Dengan sangat terpaksa nadia harus
menuruti perintah konyolnya tersebut yang membuat hati nadia semakin jengkel.
“mas rio yang ganteng , bolehkah saya
mengambil kunci ini.?” ucap nadia
“boleh – boleh saja sang putri yang
cantik” ucap si rio
“udah deh gak usah lebay , ayo bukakan
pintu gerbanya”.
Setelah si rio puas menggoda nadia ,
akhirnya pintu gerbang tersebut terbuka dan nadia langsung pulang ke rumah
dengan perasaan kecewan sekaligus jengkel bertemu dengan si rio , setelah
sampai di rumah dia langsung mandi air hangat karena tadi habis kehujanan.
“kemana saja kamu nadia , ibu dan ayah
tadi nyariin kamu gak ada.!”ucap pak harun.
“tadi saya habis ke rumahnya pak joni”
ucap nadia sambil tertunduk malu kepada ayahnya karena nadia merasa bersalah.
“lain kali kalau mau keluar ijin ayah
dulu , sana mandi air hangat dulu biar gak masuk angin” ucap pak harun.
“iya ayah , maafin nadia , lain kali saya
ijin dulu sama papah” ucap nadia.
Akhirnya setelah di belain hujan –
hujanan dan di permalukan si rio , kerudung merah nadia sudah kembali lagi di
pelukanya setelah emak atun mengembalikanya kepada bu aminah . sungguh kerudung
merah tersebut sangat berharga bagi nadia , jika seandainya kerudung merah itu
hilang , maka nadia akan sedikit kecewa , karena untuk melepas kangen dan
rindunya hanyalah dengan kerudung merah tersebut yang bisa mengobatinya.
Suatu ketika saat malam hari , nadia
termenung di samping jendela kamar sembari melihat indahnya bintang yang
bergemerlap di angkasa, datanglah sang bunda kepada nadia.
“nadia , ibu mau bicara serius kepadamu”
ucap bunda sambil membelai rambut nadia yang indah , seakan seperti waktu ia
kecil dulu.
“iya bunda, silahkan” ucap nadia
“kamu yakin ya suka sama si firman.?”

Comments
Post a Comment