kerudung merah untuk adinda 3



namun di saat kebahagiaan itu datang , cobaan datang silih berganti menimpa keluarga bapak kades , baru – baru ini sawah yang di garap pak harun mengalami kerugian yang sangat besar , hujan turun deras mengguyur desa mlaten selama satu minggu penuh. Pagi , siang dan sore selalu hujan dan mendung , akibatnya banyak ladang milik warga yang mengalami kebanjiran. Mendengar peristiwa itu , ayah firman yang berada di surabaya cukup sedih dengan kejadian tersebut.

Pagi yang indah di temani segelas kopi hangat , pak harun membaca berita pagi koran suara merdeka di teras rumah , saat ini di Kairo Mesir tengah berlangsung pemberontakan atas kudeta presiden mesir yang baru – baru ini terpilih menjadi presiden , peristiwa pemberontakan ini semakin memanas hingga seluruh akses jalan di tutup , tak hanya itu saja , banyak mahasiswa asing yang di culik agar dia mau ikut kelompok pemberontakan anti pemerintah tersebut. sejak saat ini sudah banyak korban yang berjatuhan , dari peristiwa tersebut seluruh kegiatan belajar mengajar di kota kairo terlihat sepi , apalagi demonstran sudah banyak yang memadati kawasa universitas Al azhar Mesir.

Setelah membaca kabar berita tersebut , pak harun semakin khawatir dengan nasib si firman yang sedang kuliah disana , saat itu pak harun langsung memanggil nadia.
“Nadia.!” Ucap pak harun dengan suara keras
“iya ayah , jangan keras – keras manggilnya , nadia udah denger kok” ucap nadia. lalu saat itu datanglah nadia kepada ayahnya yang sedang membaca koran di teras rumah.
“ada kabar berita di koran kalau di mesir sedang ada pemberontakan anti pemerintah secara besar – besaran, saya khawatir dengan firman disana.?” ucap pak harun kepada nadia.
“Astaga.!, dimana kejadian tersebut pak , Negara Mesir kan luas.?” Ucap nadia sedikit panik .
“kejadianya berada di pusak ibu kota mesir dan sekarang sudah mulai memadati Universitas Al Azhar Mesir” ucap pak harun.
“lho , itukan tempatnya mas firman kuliah disana.?” ucap nadia dengan raut wajah sedih.
“ ya sudah kamu berdo’a saja , supaya si firman baik – baik saja disana”.

Setelah mendengar kabar tersebut , nadia langsung menuju kamar dan menutup kunci rapat – rapat , saat itu dia mengeluarkan kerudung merah yang ia simpan di dalam almari , terlihat dia mulai menangis dan meneteskan air mata . rasa cemas , rindu dan khawatir bercampur aduk di dalam hati seorang gadis putri bapak kades ini. dia terus mencium kerudung merah pemberian mas firman , nadia berharap agar tidak terjadi suatu hal yang membahayakan firman disana , namun rasa khawatir dan gelisah masih ada di dalam hati , sungguh untuk memperjuangkan cinta di butuhkan pengorbanan yang sungguh luar biasa , cinta ini bukanlah cinta yang biasa , sulit memang untuk menaruh kepercayaan yang berada di lubuk hati paling dalam, akan tetapi nadia terus bersabar , walau semenjak dia berhubungan dengan si firman , banyak sekali cobaan yang datang kepada dirinya , termasuk kabar yang tak sedap ini. namun nadia tetap yakin , bahwa sesuatu yang indah akan datang menghampiri dirinya suatu saat nanti.

Malam yang indah di temani bintang di langit, suasana kesedihan telah berlalu, kini nadia harus bisa sabar menghadapi semua cobaan yang menimpa dirinya saat ini , terdengar kabar kalau firman di Mesir baik – baik saja , akan tetapi dia masih mengungsi di Kantor Kedutaan Besar Indonesia bersama dengan mahasiswa lainya. setiap kali nadia kangen sama firman , pasti kerudung merah tersebut yang menjadi pelepas rindunya. Hingga suatu hari kerudung merah tersebut pernah hilang , sontak membuat nadia kebingungan untuk mencarinya, setelah beberapa hari di cari namun masih belum ketemu juga, lalu nadia bertanya kepada ibunya.
“bunda , kemarin lihat kerudung merah gak di kamar nadia.?”
“kerudung yang mana, ibu kok lupa” ucap bu hajjah aminah yang baru saja sembuh dengan penyakit jantungnya.
“kerudung warna merah bu.?” Ucap nadia dengan raut wajah agak kebingungan.
“oh iya ibu ingat” ucap bu aminah , mendengar jawaban tersebut nadia mulai lega.
“dimana bu.?” ucap nadia berharap kerudung merah tersebut bisa ketemu lagi.
“kayaknya sudah ibu kasihkan kepada emak atun , pembantunya pak joni yang kemarin datang kesini , kasihan lho anak – anaknya banyak yang bajunya sudah rusak , jadi ibu kasih juga baju – baju bekas milik nadia dulu yang sekarang sudah tak terpakai lagi” ucap bu aminah panjang lebar.
“Astaga.!, itu kerudung masih nadia pake bu.?” ucap nadia sedikit kecewa
“kamu sih nempatinya yang gak bener , kemarin tergeletak di lantai , jadi ibu pikir sudah tak terpakai” ucap bu aminah
“terus emak atun sekarang dimana tinggalnya.?”
“tinggalnya ya di tempatnya pak joni , dia kan bekerja sebagai pembantu disana, maafin ibu ya , gara – gara ibu kamu jadi bingung kayak gini” ucap bu aminah
“ha.! Pak joni” ucap nadia terkejut mendengarnya.
“emang ada apa sih dengan kerudung merah tersebut.?” ucap bu aminah sedikit penasaran , sampai – sampai nadia bingung mencarinya kesana kemari.
“itu kerudung pemberian mas firman bu, pokoknya panjang ceritanya” ucap nadia.

Hanya gara – gara kerudung merah itu hilang membuat hati nadia sedikit kecewa dan berharap kerudung merah tersebut bisa kembali lagi kepada dirinya. Memang maksud ibu aminah itu ingin membantu orang yang tidak mampu , karena orang tersebut memang sedang membutuhkan beberapa pakaian untuk anak – anaknya yang sudah rusak , namun sayang kerudung merah tersebut juga ikut di kasihkan , karena ibu aminah tak tahu kalau kerudung merah tersebut adalah kerudung pemberian mas firman kepada nadia , dan saat itu nadia langsung bergegas ke rumahnya pak joni , sempat ada perang batin di  dalam hati nadia , jika dia nanti ke ruamhnya pak joni , sudah pastikan kalau nanti bisa bertemu dengan si rio , mengigat nadia juga sangat benci dengan kelakuan si Rio terhadap dirinya . apalagi sama pak joni yang orangnya agak genit jika melihat wanita cantik , namun di sisi lain nadia harus bisa mencari kerudung merah itu sampai ketemu , karena kerudung merah tersebut menjadi kerudung paling berharga di dalam hidupnya.

Sore itu nadia pergi ke rumahnya pak joni menggunakan sepeda berwarna biru untuk mengambil kerudung merah itu kempali kepada emak atun. Setelah sampai di rumahnya pak joni , nadia harus memencet tombol bel dulu agar dia bisa masuk ke rumahnya , namun saat itu dia menunggu cukup lama, hingga datanglah pak satpam kepada nadia.
“ada perlu apa kesini dek.?” ucap pak satpam
“saya mau ketemu sama emak atun pak.?” ucap nadia sambil melihat megahnya rumah pak joni.
“waduh dek, kalau sore – sore kayak gini biasanya emak atun pulang, tapi sebentar lagi kayaknya dia kesini lagi” ucap pak satpam.
“ya udah pak terimakasih , saya tunggu disini saja”
“masuk aja dek ke dalam rumah.?”
“enggak pak disini saja”
“ya sudah kalau gitu , bapak tinggal dulu ya.?”.

Teryata hanya karena ingin mendapatkan kerudung merah itu kembali, nadia harus rela menunggu di depan pintu gerbang rumahnya pak joni , terlihat langit sudah ingin menangis yaitu pertanda akan turun hujan , namun nadia tak beranjak pindah dari tempat dia berdiri , hingga hujan yang sangat deras turun , dia masih tetap berdiri di pintu gerbang rumahnya pak joni. Baju dan tubuhnya basah kuyup terkena air hujan, hingga datanglah seorang wanita memakai pakaian kebaya datang menuju rumahnya pak joni, saat itu dia langsung bertanya kepada nadia.
“ada apa neng , hujan deras kayak gini kok gak cari tempat berteduh.?” ucap wanita tersebut.
“sampeyan yang namanya emak atun ya.?” ucap nadia.
“iya neng , kamu kok bisa tahu kalau itu namaku, kemarin ibukan yang pernah di kasih baju bekas oleh bu aminah.?” ucap emak atun sambil berjalan menuju ke ruamhnya pak joni.
“iya neng , betul sekali, terus neng sendiri siapa.?” ucap emak atun sedikit heran dengan seorang gadis yang satu ini.
“saya nadia , anaknya bu aminah” ucap nadia sambil tersenyum.
“MasyaAllah neng nadia , kok bisa sampai kesini, emang ada perlu apa sama emak.?” ucap emak atun kepada nadia , dia baru tahu kalau gadis ini anaknya lurah di desa ini.
“oh iya emak , kemarin emak sempet gak nemukan kerudung merah yang bercampur dengan pakaian bekas yang dikasihkan ibu kemarin” ucap nadia.
“masih neng, terus kenapa neng dengan kerudung itu.?”
“ceritanya panjang pokoknya mak , tapi saya ingin ngambil kerudung merah itu kembali, sebelumnya saya minta maaf ya mak sudah merepotkan emak”
“ouh ya sudah kalau gitu besok saya anter ke rumah neng nadia saja ya.?”
“terimakasih banyak mak”.

Saat nadia mau meninggalkan rumahnya pak joni , tiba – tiba ada sesosok pria yang dari kejauhan memanggil – manggil nama nadia dengan suara yang keras , ternyata cowok tersebut adalah si Rio anaknya pak joni, dan saat itu nadia mencoba untuk berlari agar tidak bertemu dengan si rio , namun setelah sampai di pintu gerbang , ternyata pintu gerbang tersebut sudah terkunci dari luar.
“Hayo, mau kemana lagi kamu.?” ucap si Rio sambil tertawa melihat nadia gak bisa lari kemana – mana.
“ngapain sih kamu selalu menganggu aku rio.!” ucap nadia dengan suara agak keras.
“kamu sendiri yang salah , ngapain hujan – hujan kayak gini main ke rumahku”
“itu bukan urusanmu.!” Ucap nadia dengan wajah juteknya.
“mana kuncinya saya mau pulang ke rumah”
“kunci apa nadia yang cantik.?” Ucap rio sambil terus menggoda nadia.
“kunci gerbang.!” Ucap nadia yang mulia kesal dengan si Rio
“nih kuncinya , tapi dengan satu syarat.?” Ucap rio sambil tersenyum nakal
“apa syaratnya.!”
“kamu harus mengatakan kata – kata seperti ini , “mas rio yang ganteng , bolehkah saya mengambil kunci ini.?” ucap rio
Dengan sangat terpaksa nadia harus menuruti perintah konyolnya tersebut yang membuat hati nadia semakin jengkel.
“mas rio yang ganteng , bolehkah saya mengambil kunci ini.?” ucap nadia
“boleh – boleh saja sang putri yang cantik” ucap si rio
“udah deh gak usah lebay , ayo bukakan pintu gerbanya”.

Setelah si rio puas menggoda nadia , akhirnya pintu gerbang tersebut terbuka dan nadia langsung pulang ke rumah dengan perasaan kecewan sekaligus jengkel bertemu dengan si rio , setelah sampai di rumah dia langsung mandi air hangat karena tadi habis kehujanan.
“kemana saja kamu nadia , ibu dan ayah tadi nyariin kamu gak ada.!”ucap pak harun.
“tadi saya habis ke rumahnya pak joni” ucap nadia sambil tertunduk malu kepada ayahnya karena nadia merasa bersalah.
“lain kali kalau mau keluar ijin ayah dulu , sana mandi air hangat dulu biar gak masuk angin” ucap pak harun.
“iya ayah , maafin nadia , lain kali saya ijin dulu sama papah” ucap nadia.

Akhirnya setelah di belain hujan – hujanan dan di permalukan si rio , kerudung merah nadia sudah kembali lagi di pelukanya setelah emak atun mengembalikanya kepada bu aminah . sungguh kerudung merah tersebut sangat berharga bagi nadia , jika seandainya kerudung merah itu hilang , maka nadia akan sedikit kecewa , karena untuk melepas kangen dan rindunya hanyalah dengan kerudung merah tersebut yang bisa mengobatinya.

Suatu ketika saat malam hari , nadia termenung di samping jendela kamar sembari melihat indahnya bintang yang bergemerlap di angkasa, datanglah sang bunda kepada nadia.
“nadia , ibu mau bicara serius kepadamu” ucap bunda sambil membelai rambut nadia yang indah , seakan seperti waktu ia kecil dulu.
“iya bunda, silahkan” ucap nadia
“kamu yakin ya suka sama si firman.?”

Comments